Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

segelas susu yg berharga

segelas susu

Suatu hari, seorang anak laki-laki miskin yang hidup dari menjual asongan adri pintu kepintu menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak laki-laki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut meihat, dan berpikir bahwa anak laki- laki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya:” Betapa saya harus membanyar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata:” dari dalam hati ku aku berterimakasih banyak pada anda.” Setelah sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut menjadi tua dan mengalami sakit yang sangat serius dan kritis.

Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, di mana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly di panggil untuk melakukan pemeriksaan, pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, ia selalu memberikan perhatian khusu pada pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya di peroleh kemenangan. Wanita itu sembuh.. !! Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi.. “telah di bayarlunas dengan segelas air besar susu” tertanda, Dr.Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa :” tuhan, terimakasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalu hati dan tangan manusia”.

sang pelita hatie qw

penjaga hatie qw

Dia adalah seorang yang sangat aku sayangi dan aku cintai, seseorang yang selalu memendam permasalahan sendiri, selalu tampak tegar di tengah kerapuhannya. Selalu tersenyum di tengah kemarahannya, hal itu yang membuat aku saying padanya, tetapi dia juga membuat aku terhanyut dalam kesedihan ini.

Dia bernama Andri, aku bertemu dengannya di sebuah acara kemahasiswaan, dia anak yang baik dan humoris, makanya gak heran dalam waktu singkat kami bisa berteman akrab, teman-temanku mengira kami pacaran dan mereka sangat mendukung. Aku hanya tersenyum geli melihat teman-temanku menjahili dia, terfikir olehku apa benar yang mereka katakana. Tapi aku menepisnya, aku gak mau memikirkan hal itu, karena aku pernah bertekad untuk tidak pacaran sampai aku selesai kuliah dan aku berusaha menjaga itu.

Waktu terus berlalu, aku juga tak mengerti kapan rasa itu dating dan hinggap di hati ini, berawal saat kami bermain ke rumah Hilman, saat itu Hilman mengajak ku keluar untuk membeli makanan, kami bercerita banyak hal sampai Hilman menyinggung tentang Andri dan pacarnya, aku terperanjak sejenak, tapi cepat-cepat ku sembunyikan rasa itu, aku kembali bercerita seolah olah aku tau kalau dia sudah memiliki pacar, baru aku tersadar hatiku sakit mendengarkan cerita dari Hilman.

Sepulang dari rumah Hilman, aku lebih banyak diam begitu juga dengannya, dia marah karena aku terlalu lama pergi bersama Hilman, tapi bukan itu yang kupikirkan ,aku memekirkan dirirku, ada apa denganku, aku hanya temannya , mengapa aku cemburu dan sakit hati kalu dia mempunyai pacar, mengapa tidak terpikirkan olehku kalua orang semanis dia pasti ada yang memiliki, dasar begok!!! Aku tersenyum sendiri di kamar mencoba untuk ceria, menganggap hal ini biasa dan pasti bisa ku atasi, aku bertekad pada diriku untuk menjadi teman yang baik, selalu ada di sisinya saat suka dan duka. Semanga t teriakku pagi itu.

Namun perasaan itu muncil kembali saat kami pergi makan di suatu café, di sanan dia mencurahkan semua isi hati yang selama ini dia pendam, aku terkejut melihatnya menangis layaknya seorang anak kecil di hadapanku, belum pernah aku melihat dia seperti itu, ternyata di balik keceriaannya selama ini, tersimpan luka yang sangat dalam, aku terharu ketika dia mengatakan percaya padaku, aku sangat saying padanya tapi aku tak mungkin memilikinya.

Setelah kejadian itu dia lebih terbuka pdaku tentang pacarnya yang selama ini dia tutupi, aku semakin mengerti bagaimana dirinya, makin memahami apa yang diinginkannya harap ku suatu hari dia memiliki seseorang yang benar-benar mengerti dirinya dan saying padanya walau hati ini hancur setiap kali mendengarkan dia bercerita tentang pacarnya. Akan tetapi yang tak kumengerti kerap kali dia mengatakan suatu hal yang membangkitkan kembali perasaanku bahwa dia tidak ingin melepaskanku karena aku tlah menjadi sebagian dari dirinya, aku bingung tapi aku juga gak punya nyali untuk bertanya padanya bagaimana perasaan dia terhadapku.

Sampai pada puncaknya aku tak kuat membendung perasaanku sendiri, aku mengatakan padanya kalu aku saying padanya dan aku tau perasaan ini tak boleh terbinang, aku hanya sekedar mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati ku, terserah dia menganggap apa, yang penting hatiku lega, aku tak mungkin membahas masalah ini lagi, karena aku berjanji akan selalu menjadi teman dan sahabat yang baik buatnya.

Namun rasa sayang dan cinta telah bersemi di dalam hatiku, tak mudah untuk menepisnya walau aku berusaha ternyata benar kata pepatah cinta itu dating tiba-tiba walau kita tidak menginginkannya, tapi setelah kita tau mengapa rasa sakit jadinya, entah mengapa setelah kejadian itu dia makin perhatian padaku, aku gak pernah tau apa maksudnya karena dia tak pernah mengatakannya padaku, yang aku tau dia memberikan perhatian lebih dari biasanya, seakan-akan menjawab semua pertanyaanku tanpa harus di ungkapkan. Aku gak perduli hanya ingin menjalani apa yang aku jalani sekarang, tidak mau berfikir yang muluk-muluk tentang masa depan, apa yang terjadi antara aku dan dia biarlah bejalan seperti sekarang ini tanpa kata-kata tapi saling mengerti dan memahami maksud satu sama lain walau entah sampai kapan hal ini akan berlanjut, akupun tak tau tapi biarlah kisah ini berjalan seiring dengan waktu yang kamipun tak pernah tau akhir dari semua ini tapi aku tetap berharap semoga…….

kau pujaan hatie koe

CINTA MATIE

Aku mengenalnya semenjak aku duduk di bangku kelas XII MA.Dua teman sekelasku yang telah memperkenalkanku kepadanya.Dia berada di jurusan IPA,sedangkan aku berada di jurusan IPS. Dan semenjak itu aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku.

Akupun mulai tersadar ternyata aku mulai jatuh cinta,ya aku jatuh cinta pertama kalinya.Mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pada jam-jam istirahat sekolah,aku menghampiri kelasnya dan berusaha untuk lebih dekat dengannya dan ternyata diapun merespon dengan baik pada setiap kalimat yang aku utarakan.

Aku mencoba untuk main ke rumahnya,ternyata diapun memperbolehkan aku untuk pergi kesana.Hari demi hari telah aku lewati bersamanya.

Hari itu adalah hari yang menentukan bagiku,ya aku mencoba untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini ada di dalam hatiku,jantungku berdebar-debar saat aku mengungkapkan isi hatiku padanya.Alhamdulillah,ternyata dia menerimaku apa adanya. Dia menerima dengan keadaanku yang serba sederhana ini.Betapa bahagianya diriku mempunyai pasangan seperti dia.

Namun disaat aku mempunyai hubungan yang lebih dekat dengannya,ada beberapa teman sekelasnya yang tidak suka dengan kehadiranku disisinya.Merekapun menggunakan berbagai cara agar hubunganku berakhir dengannya.

Disetiap dia masuk kedalam kelasnya,dia selalu diolok-olok oleh temannya dengan menjelek-jelekkan kepribadianku di depannya.Akupun tahu akan hal itu,tapi dia tak ingin aku bersikap tidak baik kepada teman-temannya.

Hingga suatu hari,apa yang aku takutkan terjadi.Dia pergi,dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.Kini,hanya ada aku dan kenangan itu.Aku hanya mampu mengingatnya,mengingat semua senyuman dan tatapan indah itu.Apa mungkin dia tahu,betapa sakitnya hatiku saat dia pergi meninggalkanku.Aku tak mampu berkata apapun,aku hanya menangis dalam diam menyesali semuanya.Aku mencoba tegar.

Aku mencoba terus untuk menutupi luka ini,luka yang kau beri.Aku mencoba bertahan dengan senyumanku.Yaa Allah,jaga dia selama dia jauh dariku.

Dalam penantianku,aku selalu berharap agar kelak dia kembali menemani hidupku yang hampa tak berwarna ini.Because My 1st Love Will Never Dies...

Mu’izz Tri Santoso Putera (25)

XII IPS 2

sang pencerah

Shalawat

Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.

Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah.

Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.

Begitu besarnya pohon trembesi itu, dengan dahan dan cabangnya yang menjulur ke segala arah, membentuk semacam payung, membuat kita pun akan berpikir, masjid ini memang dipayungi trembesi. Cantik sekali.

Namun, masjid ini sepi. Terutama jika siang hari. Subuh ada lima orang berjemaah, itu pun pengurus semua. Maghrib, masih lumayan, bisa mencapai dua saf. Isya… hanya paling banyak lima orang. Begitu setiap hari, entah sejak kapan dan akan sampai kapan hal itu berlangsung.

Bagi Haji Brahim, keadaan itu merisaukannya. Sejak, mungkin, 30 tahun lalu dia dipercaya untuk menjadi ketua masjid, keadaan tidak berubah. Bahkan, setiap Jumat, jumlah jemaah, paling banyak 45 orang. Pernah terpikirkan untuk memperluas bangunan, tetapi dana tak pernah cukup. Mencari sumbangan tidak mudah, dan Haji Brahim tak mengizinkan pengurus mencari sumbangan di jalan raya—sebagaimana dilakukan banyak orang. ”Seperti pengemis saja…,” gumamnya. Seiring dengan berjalannya waktu, maka pikiran untuk memperluas bangunan itu tinggal sebagai impian saja. Kas masjid nyaris berdebu karena kosong melompong. Dan itu pula sebabnya masjid itu tak bisa memasang listrik, cukup dengan lampu minyak.

Daun-daun trembesi berguguran setiap hari, seperti taburan bunga para peziarah makam. Buah-buahnya yang tua berserakan di halaman. Satu-dua anak memungutnya, mengeluarkan biji-bijinya yang lebih kecil daripada kedelai itu, menjemurnya, menyangrai, dan menjadikannya camilan gurih di sore hari. Jelas tak ada orang yang secara khusus menyapu halaman setiap hari.

Terlalu luas untuk sebuah pekerjaan gratisan. Semua maklum, termasuk Haji Brahim.

***

Suatu siang, seusai shalat Jumat, ketika orang-orang sudah lenyap semua entah ke mana, Haji Brahim dan dua pengurus lainnya masih duduk bersila di lantai masjid. Haji Brahim masih berzikir sementara dua orang itu tengah menghitung uang amal yang masuk hari itu.

”Tiga puluh ribu, Pak,” ucap salah seorang seperti protes pada entah apa.

”Alhamdulilah.”

”Dengan yang minggu lalu, jumlahnya 75.000. Belum cukup untuk beli cat tembok.”

”Ya, sudah… nanti kan cukup,” ujar Haji Brahim tenang.

Sesaat ketika kedua orang itu akan berdiri, di halaman dilihatnya ada seorang nenek tua tengah menyapu pandang. Haji Brahim pun menoleh dan dilihatnya nenek itu dengan badan bungkuk, tertatih mendekat.

”Alaikum salam… nek,” jawab salah seorang pengurus, sambil mengangsurkan uang 500-an.

Tapi si nenek diam saja. Memandangi si pemberi uang dengan pandangannya yang tua.

”Ada apa?” tanya Haji Brahim, seraya mendekat.

”Saya tidak perlu uang. Saya perlu jalan ampunan.”

Sesaat ketiga pengurus masjid itu terdiam. Angin bertiup merontokkan dedaunan trembesi. Satu dua buahnya gemelatak di atap.

”Silakan nenek ambil wudu dan shalat,” ujar Haji Brahim sambil tersenyum.

Nenek itu diam beberapa saat. Tanpa berkata apa pun, dia kemudian memungut daun yang tergeletak di halaman. Daun itu dipungutnya dengan kesungguhan, lalu dimasukkannya ke kantong plastik lusuh, yang tadi dilipat dan diselipkan di setagen yang melilit pinggangnya. Setelah memasukkan daun itu ke kantong plastik, tangannya kembali memungut daun berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya….

Ketiga orang itu ternganga. Sesaat kemudian, karena melihat betapa susah payahnya si nenek melakukan pekerjaan sederhana itu, salah seorang kemudian mendekat dan membujuk agar si nenek berhenti. Tapi si nenek tetap saja memunguti daun-daun yang berserakan, nyaris menimbun permukaan halaman itu.

Haji Brahim dan seorang pengurus kemudian ikut turun dan mengambil sapu lidi.

”Jangan… jangan pakai sapu lidi… dan biarkan saya sendiri melakukan ini.”

”Tapi nanti nenek lelah.”

”Adakah yang lebih melelahkan daripada menanggung dosa?” ujar si nenek seperti bergumam.

Haji Brahim tercekat. Ada sesuatu yang menyelinap di sanubarinya.

Dilihatnya si nenek kembali memungut dan memungut daun-daun itu helai demi helai. Dan, demi mendengar apa yang tergumam dari bibir tua itu, Haji Brahim menangis.

Dari bibirnya tergumam kalimat permintaan ampun dan sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Pada setiap helai yang dipungut dan ditatapnya sesaat dia menggumamkan ”Gusti, mugi paringa aksama. Paringa kanugrahan dateng Kanjeng Nabi.” Sebelum dimasukkannya ke kantong plastik.

Haji Brahim tergetar oleh kepolosan dan keluguan si nenek. Di matanya, si nenek seperti ingin bersaksi di hadapan ribuan dedaunan bahwa dirinya sedang mencari jalan pengampunan.

***

Hari bergulir ke Magrib. Dan si nenek masih saja di tempat semula, nyaris tak beranjak, memunguti dedaunan yang selalu saja berguguran di halaman. Tubuh tuanya yang kusut basah oleh keringat. Napasnya terengah-engah. Ketiga orang itu tak bisa berbuat lain, kecuali menjaganya. Ketika maghrib tiba, dan orang-orang melakukan sembahyang, si nenek masih saja memunguti dedaunan.

”Siapa dia?” bisik salah seorang jemaah kepada temannya, ketika mereka meninggalkan masjid. Tentu saja tak ada jawaban, selain ”entah”.

”Nek, istirahatlah… ini sudah malam.”

”Kalau bapak mau pulang, silakan saja… biarkan saya di sini dan melakukan ini semua.”

”Nek, mengapa nenek menyiksa diri seperti ini?”

”Tidak. Saya tidak menyiksa diri. Ini… mungkin bahkan belum cukup untuk sebuah ampunan,” ucapnya sambil menghapus air matanya.

Haji Brahim terdiam. Mencoba mereka-reka apa yang telah diperbuat si nenek di masa lalunya.

***

Malam itu, Haji Brahim pulang cukup larut karena merasa tak tega meninggalkan si nenek. Pengurus masjid yang semula akan menunggui, sepulang Haji Brahim, ternyata juga tak tahan. Bahkan, belum lagi lima menit Haji Brahim pergi, dia diam-diam pulang.

Tak ada yang tahu apakah si nenek tertidur atau terjaga malam itu. Begitu subuh tiba, Mijo yang akan azan Subuh mendapati si nenek masih saja melakukan gerakan yang sama. Udara begitu dingin. Beberapa kali si nenek terbatuk.

***

Peristiwa si nenek itu ternyata mengundang perhatian banyak orang. Mereka berdatangan ke masjid. Niat mereka mungkin ingin menyaksikan si nenek, tetapi begitu bertepatan waktu shalat masuk, mereka melakukan shalat berjemaah. Tanpa mereka sadari sepenuhnya, masjid itu jadi semarak. Orang datang berduyun-duyun, membawa makanan untuk si nenek, atau sekadar memberinya minum. Dan, semuanya selalu berjemaah di masjid.

Dua hari kemudian, tepat ketika kumandang waktu Ashar terdengar, si nenek tersungkur dan meninggal. Orang-orang terpekik, ada yang mencoba membawanya ke puskesmas, tetapi entah mengapa tak jadi.

Hari itu juga polisi datang. Karena semua orang tak tahu siapa keluarga si nenek, akhirnya diputuskan si nenek dimakamkan di halaman belakang masjid.

Ketika semua orang sibuk, Haji Brahim tercekat. Dia tiba-tiba merasa sunyi menyergapnya. Dia menyapu pandang, ada yang aneh di matanya. Dedaunan yang berserak itu lenyap. Halaman masjid bersih. Menghitam subur tanahnya, seperti disapu, dan daun yang gugur ditahan oleh jaring raksasa hingga tak mencapai tanah.

Sudut mata Haji Brahim membasah. ”Semoga kau temukan jalanmu, nek,” gumamnya.

Dan ketika semua orang, yang puluhan jumlahnya itu, secara bersamaan menemukan apa yang dipandang Haji Brahim, mereka ternganga. Bagaimana mungkin halaman masjid bisa sebersih seperti itu.

***

Lama setelah kisah itu sampai kepadaku, aku tercenung. Rupanya, menurut Haji Brahim kepadaku, nenek itu hadir mungkin sebagai contoh. ”Mungkin juga dia memang berdosa besar—sesuai pengakuannya kepada saya,” ucap Haji Brahim kepadaku beberapa waktu lalu. ”Dan… dia melakukan semacam istigfar dengan mengumpulkan sebanyak mungkin daun yang ada di halaman, mungkin begitu… saya tak yakin. Yang jelas, mata kami jadi terbuka. Sekarang masjid kami cukup ramai.”

”Pasti banyak yang mau menyapu halaman,” godaku.

”Iya… ha-ha-ha… benar.”

”Memangnya bisa begitu, Ji?”

”Maksudnya, ampunan Allah? Ya, saya yakin bisa saja. Allah maha-berkehendak, apa pun jika Dia berkenan, masak tidak dikabulkan?” ucap Haji Brahim tenang.

Aku terdiam. Kubayangkan dedaunan itu, yang jumlahnya mungkin ribuan helai itu, melayang ke hadirat Allah, membawa goresan permohonan ampun.